TAUHID DAN AGAMA DALAM ISLAM
Tauhid adalah kedudukan paling mendasar dan kekal dalam perjalanan seorang hamba di dunia yang ada di dalam sebuah ajaran (Agama). Dalam kehidupannya pun keutamaan tauhid sejalan dengan turunya Nabi Adam ke bumi, tentu masih kita ingat bahwa agama (ajaran) yang dibawa oleh 24 nabi sebelum Nabi Muhammad SAW adalah ajaran mengenai tauhid. Dari gambaran disini bisa dikatakan bahwa umur ajaran tauhid sejalan dengan perkembangan dan keberadaan manusia itu sendiri di bumi.
Tauhid merupakan hak Allah yang paling besar atas hamba-hamba-Nya, sebagaimana dalam hadits Mu’adz bin Jabal radiyallahu ‘anhu. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassallam berkata kepadanya: “Hai Mu’adz, tahukah kamu hak Allah atas hamba-Nya dan hak hamba atas Allah? Ia menjawab: “Allah dan Rasul-Nya yang lebih mengetahui”. Beliau mengatakan: “Hak Allah atas hamba-Nya adalah mereka menyembah-Nya dan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatupun.” ( HR. Bukhari dan Muslim).
1. Tauhid merupakan dasar dibangunnya segala amalan yang ada di dalam agama ini. Rasulullah bersabda:
“Islam dibangun di atas lima dasar, bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang benar kecuali Allah dan bahwa Muhammad adalah Rasulullah, mendirikan shalat, menunaikan zakat, berhaji dan puasa pada bulan Ramadhan.” (Shahih, HR. Bukhari dan Muslim dari Abdullah Ibnu Umar)
“Islam dibangun di atas lima dasar, bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang benar kecuali Allah dan bahwa Muhammad adalah Rasulullah, mendirikan shalat, menunaikan zakat, berhaji dan puasa pada bulan Ramadhan.” (Shahih, HR. Bukhari dan Muslim dari Abdullah Ibnu Umar)
2. Tauhid merupakan perintah pertama kali yang kita temukan di dalam Al Qur’an sebagaimana lawannya (yaitu syirik) yang merupakan larangan paling besar dan pertama kali kita temukan di dalam Al Qur’an, sebagaimana firman Allah:
“Hai sekalian manusia, sembahlah Rabb kalian yang telah menciptakan kalian dan orang-orang sebelum kalian agar kalian menjadi orang-orang yang bertakwa. Yang telah menjadikan bumi terhampar dan langit sebagai bangunan dan menurunkan air dari langit, lalu Allah mengeluarkan dengannya buah-buahan sebagai rizki bagi kalian. Maka janganlah kalian menjadikan tandingan-tandingan bagi Allah”. (Al-Baqarah: 21-22)
Dalil yang menunjukkan hal tadi dalam ayat ini adalah perintah Allah “sembahlah Rabb kalian” dan “janganlah kalian menjadikan tandingan bagi Allah”.
3. Tauhid merupakan poros dakwah seluruh para Rasul, sejak Rasul yang pertama hingga penutup para Rasul yaitu Muhammad Shallallahu ‘alaihi wassallam. Allah berfirman:
“Dan sungguh Kami telah mengutus pada setiap umat seorang Rasul (yang menyeru) agar kalian menyembah Allah dan menjauhi thagut.” (An-Nahl: 36)
4. Tauhid merupakan perintah Allah yang paling besar dari semua perintah. Sementara lawannya, yaitu syirik, merupakan larangan paling besar dari semua larangan.
Allah berfirman:
“Dan Rabbmu telah memerintahkan agar kalian jangan menyembah kecuali kepada-Nya dan berbuat baiklah kepada kedua orang tua.” (Al-Isra: 23)
“Dan sembahlah oleh kalian Allah dan janganlah kalian menyekutukan-Nya dengan sesuatu apapun. ” (An-Nisa: 36)
Allah berfirman:
“Dan Rabbmu telah memerintahkan agar kalian jangan menyembah kecuali kepada-Nya dan berbuat baiklah kepada kedua orang tua.” (Al-Isra: 23)
“Dan sembahlah oleh kalian Allah dan janganlah kalian menyekutukan-Nya dengan sesuatu apapun. ” (An-Nisa: 36)
5. Tauhid merupakan syarat masuknya seseorang ke dalam surga dan terlindungi dari neraka Allah, sebagaimana syirik merupakan sebab utama yang akan menjerumuskan seseorang ke dalam neraka dan diharamkan dari surga Allah. Allah berfirman:
“Sesungguhnya barangsiapa yang menyekutukan Allah maka Allah akan mengharamkan baginya surga dan tempat kembalinya adalah neraka dan tidak ada bagi orang-orang dzalim seorang penolongpun.” (Al-Maidah: 72)
“Sesungguhnya barangsiapa yang menyekutukan Allah maka Allah akan mengharamkan baginya surga dan tempat kembalinya adalah neraka dan tidak ada bagi orang-orang dzalim seorang penolongpun.” (Al-Maidah: 72)
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassallam bersabda:
“Barang siapa yang mati dan dia mengetahui bahwasanya tidak ada ilah yang benar kecuali Allah, dia akan masuk ke dalam surga.” (Shahih, HR Muslim No.26 dari Utsman bin Affan)
“Barang siapa yang mati dan dia mengetahui bahwasanya tidak ada ilah yang benar kecuali Allah, dia akan masuk ke dalam surga.” (Shahih, HR Muslim No.26 dari Utsman bin Affan)
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassallam bersabda:
“Barangsiapa yang kamu jumpai di belakang tembok ini bersaksi terhadap Lailaha illallah dan dalam keadaan yakin hatinya, maka berilah dia kabar gembira dengan surga.” (Shahih, HR Muslim No.31 dari Abu Hurairah)
“Barangsiapa yang kamu jumpai di belakang tembok ini bersaksi terhadap Lailaha illallah dan dalam keadaan yakin hatinya, maka berilah dia kabar gembira dengan surga.” (Shahih, HR Muslim No.31 dari Abu Hurairah)
6. Tauhid merupakan syarat diterimanya amal seseorang dan akan bernilai di hadapan Allah. Allah berfirman:
“Dan tidaklah mereka diperintahkan melainkan agar mereka menyembah Allah dan mengikhlaskan bagi-Nya agama. ” (Al-Bayinah: 5)
“Dan tidaklah mereka diperintahkan melainkan agar mereka menyembah Allah dan mengikhlaskan bagi-Nya agama. ” (Al-Bayinah: 5)
DEFINISI DAN SYARAT SYAHADAT
Syahadat dalam artian bahasa adalah persaksian atau menyaksikan seperti halnya menyaksikannya mata atas sesuatu, artinya yaitu menyaksikan bahwa tiada tuhan selain Allah dan Nabi Muhammad adalah utusan Allah dengan direalisasikan dalam bentuk Ihsan. Dalam pengertian yang lain syahadat dapat diartikan sebagai pemberitahuan seseorang tentang kebenaran kepada orang lain, artinya syahadat bukanlah hanya sekedar kesaksian yang diucapkan oleh lisan saja, melainkan harus direalisasikan dalam kehidupan sehari-hari baik berupa dakwah billisan maupun dakwah bilhal.
Sedangkan menurut istilah syahadat adalah mengakui dengan lisan yang disertai dengan tunduk atau patuhnya hati bahwa tiada tuhan selain Allah dan Nabi Muhammad adalah utusan Allah, artinya syahadat itu tidaklah cukup hanya diucapkan/mengakui saja, tetapi harus direalisasikan dengan bentuk peribadatan kepada Allah. Karena dengan pengertian syahadat yang hanya dibatasi pada pengucapan lisan saja dapat menimbulkan interpretasi bahwa orang munafik adalah orang yang bersyahadat, sedangkan sifat dari munafik adalah ucapannya berbeda dengan kata hatinya atau keyakinannya. Dengan kata lain bisa dikatakan agama ada karena adanya manusia, Mansia dan agama adalah satu kesatuan. Seperti dijelaskan pada surat Al-Hijr ayat 28 – 29
“Dan ingatlah, ketika tuhanmu berfirman kepada para malaikat : sesungguhnya aku akan menciptakan seorang manusia dari tanah liat kering (yang berasal) dari lumpur hitam yang diberi bentuk”.Maka apabila aku telah menyempurnakan kejadiannya, dan telah meniupkan kedalamnya ruh (ciptaan)-Ku, maka tunduklah kamu kepadanya dengan bersujud”.
Bahwa manusia itu diciptakan oleh Allah SAW
Maka agama yang benar disisi Allah SAW ialah Islam dan setiap penganut keyakinan agama selain daripada islam dengan sendirinya tidak akan diterima oleh Allah. Sepeti yang ditulis pada surat Ali - Imran ayat 85. “Barangsiapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) daripadanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi”
POSISI SYAHADAT DALAM ISLAM
SYAHADAT SEBAGAI INTISARI AQIDAH ISLAM
Syahadat dalam artian bahasa adalah persaksian atau menyaksikan seperti halnya menyaksikannya mata atas sesuatu, artinya yaitu menyaksikan bahwa tiada tuhan selain Allah dan Nabi Muhammad adalah utusan Allah dengan direalisasikan dalam bentuk Ihsan. Dalam pengertian yang lain syahadat dapat diartikan sebagai pemberitahuan seseorang tentang kebenaran kepada orang lain, artinya syahadat bukanlah hanya sekedar kesaksian yang diucapkan oleh lisan saja, melainkan harus direalisasikan dalam kehidupan sehari-hari baik berupa dakwah billisan maupun dakwah bilhal. Sedangkan menurut istilah syahadat adalah mengakui dengan lisan yang disertai dengan tunduk atau patuhnya hati bahwa tiada tuhan selain Allah dan Nabi Muhammad adalah utusan Allah, artinya syahadat itu tidaklah cukup hanya diucapkan/mengakui saja, tetapi harus direalisasikan dengan bentuk peribadatan kepada Allah. Karena dengan pengertian syahadat yang hanya dibatasi pada pengucapan lisan saja dapat menimbulkan interpretasi bahwa orang munafik adalah orang yang bersyahadat, sedangkan sifat dari munafik adalah ucapannya berbeda dengan kata hatinya atau keyakinannya.
1. A'lamu (Mengetahui), yaitu mengetahui dan memahami tentang makna yang terkandung dalam kalimat syahadat yaitu ketuhanan Allah swt. dan kerasulan Muhammad saw. melalui dalil-dalil ijmalnya, seperti dengan cara mempelajari ilmu tauhid atau ilmu aqa'id/akidah.
2. A'taqidu (Menekadkan), yaitu menekadkan dalam hati bahwa tiada tuhan selain Allah swt. dan Nabi Muhammad adalah utusan Allah dengan tanpa adanya sedikit pun keragu-raguan maupun kebimbangan terhadap yang diucapkan dan diyakininya itu, karena sesungguhnya orang-orang yang beriman tidaklah memiliki keragu-raguan dan mereka pun mampu mengorbankan dirinya untuk membela agama Allah terutama dalam menjalankan ibadah.
3. Amanu (Mengimani), yaitu menerima dan patuh pada ajaran dan tuntunan apapun yang datang dari Allah yaitu berupa interpretasi dari kalimat syahadat, karena interpretasi dari kalimat syahadat adalah berupa keimanan dan syariat. Artinya bahwa orang yang beriman adalah orang yang melaksanakan kewajiban dan meninggalkan larangan-Nya dengan ikhlas dan atas dasar mencari ridha Allah.
4. Ushaddiqu (Membenarkan), yaitu membenarkan tentang ketuhanan Allah swt. dan kerasulan Muhammad saw. tanpa adanya dusta, artinya lidahnya harus sesuai dengan hatinya, yaitu beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dengan realisasi dalam kehidupannya berupa ibadah.
4. Ushaddiqu (Membenarkan), yaitu membenarkan tentang ketuhanan Allah swt. dan kerasulan Muhammad saw. tanpa adanya dusta, artinya lidahnya harus sesuai dengan hatinya, yaitu beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dengan realisasi dalam kehidupannya berupa ibadah.
Dapat ditarik kesimpulan bahwa syahadat merupakan pokok ajaran Islam yang menjadi batasan atas keafsahan iman seorang mukallaf karena syahadat merupakan pembeda antara muslim dan kafir, kesempurnaan iman tersebut bergantung pada pemahaman dan pengamalan syahadat karena pada dasarnya setiap manusia yang terlahir kedunia ini telah bersyahadat dengan ikrar kesetiaannya kepada Allah sewaktu dialam arwah, namun ikrar tersebut tidaklah cukup sebagai satu-satunya modal manusia menuju keselamatan diakherat kelak karena sesungguhnya yang menentukan manusia Islam dan tidaknya adalah pendidikan yang dijalaninya.
AKTUALISASI SYAHADAT DAN MUAMALLAH
Secara umum dapat dikatakan bahwa kaum muslimin memiliki kelemahan di bidang aqidah, tsaqofah, tarbiyah, manajemen organisasi, dakwah dan akhlak. Kondisi ini berlaku di hampir semua negara-negara Islam/ mayoritas Islam.
Semua ini tak lebih karena kelalaian kaum muslimin yang seharusnya mampu menjadi Khalifah (pengatur) di muka bumi. Kita kehilangan kemampuan dalam menerjemahkan kehendak-kehendak Ilahiyah dalam bentuk yang aplikatif. Padahal alam semesta ini adalah milik Allah sehingga hanya Dia yang dapat mengoperasikan perputaran roda alam ini, sehingga ketundukkan dan kepatuhan kepadaNya adalah mutlak karena walaupun kita membangkang atau tidak melaksanakan kehendakNya –yang menyebabkan kehancuran dan kebinasaan—maka tidaklah berkurang kekuasaanNya.
Semua ini tak lebih karena kelalaian kaum muslimin yang seharusnya mampu menjadi Khalifah (pengatur) di muka bumi. Kita kehilangan kemampuan dalam menerjemahkan kehendak-kehendak Ilahiyah dalam bentuk yang aplikatif. Padahal alam semesta ini adalah milik Allah sehingga hanya Dia yang dapat mengoperasikan perputaran roda alam ini, sehingga ketundukkan dan kepatuhan kepadaNya adalah mutlak karena walaupun kita membangkang atau tidak melaksanakan kehendakNya –yang menyebabkan kehancuran dan kebinasaan—maka tidaklah berkurang kekuasaanNya.
Sebuah majalah Islam, Suara Hidayatullah, di tahun 90-an telah mengangkat fenomena ini dalam rubrik Kajian Uatama-nya. Disebutkan disana bahwa keadaan ummat yang carut marut ini adalah sebuah cerminan dari kualitas syahadat ummat yang masih sangat rendah, dan sekarang fenomena ini masih terus berlanjut, bahkan semakin menggejala.
Kenapa ummat Islam terjebak pada situasi ini ? ini tak bukan karena kita semakin kabur dalam melihat visi dan misi mengapa kita diciptakan. Kekaburan visi kita kedepan tercermin dalam kelalaian kita kepada hari akhir yang kekal dan kita hanya sibuk dengan kesenangan dunia yang sifatnya sementara.
Apakah benar syahadatain dapat merubah tatanan masyarakat, yang tadinya jahily menjadi tatanan dalam masyarakat islam? Bagi sebagian orang mungkin tak akan percaya bahwa sesungguhnya perubahan itu dimulai dari syahadatain. Tapi fakta sejarah telah membuktikan bahwa rosulullah mengubah dunia dengan landasan awal syahadatain.
Beberapa nilai yang tepat,atau hampir tepat antara lain :
1. Pintu gerbang Islam
Seseorang dikatakan muslim bila dia mengikrarkan syahadatain karena sesungguhnya syahadatain merupakan pernyataan ketundukkan (Islam) itu sendiri.seseorang belum dikatakan muslim bila hanya mengikrarkan Laa Ilaha Ilallah sebab hakikat seorang muslim adalah ketundukan, jika belum tunduk kepada sunnah rosulullah maka belum Islamlah dia (QS 60:13; 59:7).
2. Syahadat merupakan inti ajaran Islam
Islam bila diperas maka akan kelihatan pangkal dan ujungnya merupakan laa Ilaha Ilallah. Dari segala aspek peribadatan ternyata menuju kepada pengabdian kepada Yang Esa, yaitu Allah. Islam mencakup ibadah dalam arti khusus (mahdloh) yang benar-benar ditujukan kepada Allah semata, Islam mencakup Ibadah alam arti luas/umum, muamalah (ghoir mahdloh) yang merupakan konsekuensi dari tugas kholifah dan fungsi kholifah inilah yang merupakan bukti aktuaisasi kekuasaan Allah Yang Maha Besar yang tidak hanya bisa menuruti perintahNya ataupun membangkang, namun juga bisa memilih mana yang baik untuk dia dengan konsekuensi-konsekuensi tertentu (QS 20:123-124).
3. Syahadatain merupakan Asas perubahan
segala ssuatu yang ada di alam ini apat berubah sesuai dengan sunnatullah kecuali sunnatullah itu sendiri. Namun sesuatu itu ada yang cepat berubah dan ada yang lambat.
Demikian pula dengan orang Islam apabila syahadat yang merupakan inti ajran Islam sudah menancap dalam dirinya sebagai akidah, maka berubah pula seluruh aspek kehidupannya seperti halnya seorang Umar bin khottob yang dulunya seorang jahiliyah yang bengis sehingga tega membunuh anak perempuannya sendiri dan bodoh karena menyembah berhala dapat berubah menjadi seorang penyayang yang selalu ronda tiap malam untuk mencari orang yang membutuhkan dan menjad seorang yang pandai sehingga mampu membuat undang-undang sesuai syariat Islam setelah dia bersyahadat.
4. Syahadat merupakan hakikat dakwah para rasul.
rasul dilahirkan dari ibu yang berbeda-beda namun mempunyai misi yang sama. Syariat yang dibawa rosul dapat berbeda-beda namun intinya tetap sama yaitu beriman kepaada Allah
5. Syahadat merupakan keutamaan yang agung
syahadat dapat menyelamatkan dari azab Allah di dunia dan akhirat. Juga menjadi sebab terhapusnya dosa dan maksiat sertta sebab masuknya seseorang kedalam surga dan tidak kekal di neraka.
PENGARUH SYAHADAT DALAM KEHIDUPANsyahadat dapat menyelamatkan dari azab Allah di dunia dan akhirat. Juga menjadi sebab terhapusnya dosa dan maksiat sertta sebab masuknya seseorang kedalam surga dan tidak kekal di neraka.
Syahadat adalah landasan ke-Islam-an seseorang. Ibarat sebuah bangunan rumah, syahadat adalah pondasi. Rumah yang tidak memiliki pondasi yang kuat, sekalipun genting-gentingnya bagus, maka rumah itu akan mudah roboh oleh teriknya panas, guyuran air hujan dan terpaan badai. Sesungguhnya selemah-lemah rumah adalah sarang laba-laba. Syahadat laksana hishnun matin (benteng yang kokoh) atau al-‘urwah al-wutsqa (tali yang kuat).
Orang yang bersyahadat dengan benar dan menghayati segala konsekuensi yang terkandung di dalam kalimat pendek itu (kalimah thayyibah), ia akan teguh dalam menghadapi fluktuasi kehidupan.
Diatas pondasi yang kuat ini akan tegak pula sistem kehidupan Islami. Sistem ekonomi, sosial, politik, pendidikan, militer dan juga sistem akhlak. Kehidupan yang tidak berlandaskan akidah ibarat membangun istana pasir. Membangun di atas permukaan balon.
Jika kembali pada surat al-‘Alaq, maka syahadat adalah sebuah keputusan final. Keputusan ini bukan diperoleh karena tekanan eksternal dirinya, tetapi lahir dari motivasi dirinya sendiri (motivati intristik), lewat iqra’. Iqra’ adalah melihat, menimbang, menerawang, berfikir (ijtihad), merenung, melatih diri dengan latihan ruhani (mujahadah), dan mengorbankan apa yang dimilikinya untuk pencarian itu (jihad), membanding (muqaranah), mengukur, tentang diri, Rabb, dan alam raya. Akhirnya sampailah di ujung perjalanan. Itulah dia, syahadat kebenaran. Itulah keyakinan secara total (al-yaqinu kulluhu). Itulah gelora keimanan.
Tidak mengherankan jika aspek terpenting dalam kehidupan, pendidikan misalnya, tanpa landasan kebenaran terasa hampa. Dalam kehidupan yang lebih luas menjadi kering. Masyarkat sipil berwatak militer, manusia modern berkarakter primitif. Manusia yang secara fisik sehat, tetapi batinnya kesakitan. Hidup dalam kesepian di tengah keramaian.
Kehidupan sekarang memerlukan injeksi yang membangunkan hati (yaqzhah), gelora jiwa(thumuhat), dan menggerakkan cita rasa. Mentransformasikan kebenaran iman merupakan langkah mendasar untuk menyelamatkan kehidupan. Iman adalah bekal untuk menggapai keridhaan dan pengakuan Allah. Iman adalah jembatan menuju akhirat. Kita tidak akan mampu menuju surga yang dipenuhi oleh hal-hal yang dibenci (huffat bil makarih) tanpa iman. Sebagaimana kita takkan berdaya menghindarkan diri dari api neraka yang diselimuti dengan sesuatu yang menggiurkan tanpa kekuatan iman.
Hanya iman yang bisa melahirkan perikemanusiaan manusia. Imanlah yang memfungsikan tujuan dihadirkannya manusia di dunia, yaitu menyembah Allah dan membuatnya mencintai ibadah, hingga mengabdi menjadi sesuatu yang menyenangkan. Iman yang mengantarkan kita untuk mendekati Allah dengan melaksanakan kewajiban dan sunnah. Bertolak dari sini akan menimbulkan cinta timbal balik antara makhluk dan al-Khaliq. Allah menjadi pendengarannya yang dengannya ia mendengar, menjadi penglihatannya yang dengannya ia melihat, menjadi tangannya yang dengannya ia memukul. Jika ia memanggil-Nya dengan seruan, Dia menyambutnya, dan jika ia meminta-Nya, Dia mengabulkannya.
Iman adalah bekal untuk menggapai kebahagiaan di dunia. Iman yang bisa menemani harta, tahta, wanita, segala aspek kehidupan menjadi bermakna. Dunia tanpa disinari oleh cahaya iman akan membuat pemburunya kecewa. Betapa banyak sesuatu yang pesonanya menggiurkan, lalu mereka membanting tulang untuk meraihnya dengan suatu harapan bahwa disana terdapat kebahagiaan yang diidamkannya, namun setelah ditemuinya hanya berupa fatamorgana. Dikira air oleh orang yang kering kerongkongannya, karena kehausan, tetapi ia tidak menemukan apa-apa. Yang diburu hanyalah bayangan semu.
Kadang-kadang dengan uang dan harta orang memperoleh kelezatan duniawi (mata’). Bisa memenuhi apa saja yang bisa dibeli dengan uang. Tetapi, kebahagiaan sejati (ni’mat) tidak dijajakan di mall dan super market, tidak pula dapat dibeli dengan uang, atau diperoleh dengan pengaruh dan jabatan. Sebab kebahagiaan, ketenangan itu muncul dari dalam jiwa. Bukan suatu wujud barang yang dapat diambil di tempat tertentu.
Dengan kemajuan IPTEK, manusia bisa hidup dalam dunia yang serba otomatis. Hanya dengan menekan tombol, manusia di ujung timur bisa saling kontak dengan manusia di ujung barat, besi keras menjadi lunak, benda yang bergerak menjadi diam. Tetapi ilmu pengetahuan tidak mampu menjamin kebahagiaan. Sekalipun ilmu menjanjikan sarana material kehidupan, tetapi tidak memandu bagi tujuan dan tugas hidup itu sendiri.
Tujuan dan tugas kehidupan adalah wilayah garapan iman. Iman yang menumbuhkan pada diri manusia rindu kepada kebenaran dan kesucian, serta membenci kefasikan. Iman yang mendorong jasmani menuju ke tingkat rohani yang lebih tinggi di sisi Allah. Iman yang memberi kekuatan pemuda untuk membentengi diri dari gejolak nafsu biologis.
Kepentingan syahadat (ahamiyah syahadah) perlu didedahkan kepada mad’u agar dapat betul-betul memahami syahadah secara konsep dan aplikasinya. Kenapa syahadah penting karena dengan bersyahadah seseorang boleh menyebutkan dirinya sebagai muslim, syahadah sebagai pintu bagi masuknya seseorang kedalam Islam. Kefahaman seorang muslim dapat melakukan perubahan-perubahan individu, keluarga ataupun masyarakat.
PENGRUSAKAN SYAHADAT
Setiap manusia, apabila telah mengucapkan dua kalimat syahadat, maka dia menjadi orang Islam. Baginya wajib dan berlaku hukum-hukum Islam, yaitu beriman akan keadilan dan
kesucian Islam. Wajib baginya menyerah dan mengamalkan hukum Islam yang jelas, yang ditetapkan oleh Al-Qur’an. Tidak ada pilihan baginya menerima atau meninggalkan sebagian. Dia harus menyerah pada semua hukum yang dihalalkan dan yang diharamkan.
kesucian Islam. Wajib baginya menyerah dan mengamalkan hukum Islam yang jelas, yang ditetapkan oleh Al-Qur’an. Tidak ada pilihan baginya menerima atau meninggalkan sebagian. Dia harus menyerah pada semua hukum yang dihalalkan dan yang diharamkan.
“Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang Mukmin dan tidak (pula) bagi wanita yang Mukmin, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan sesuatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka …” (Q.s.Al-Ahzab: 36) .
Perlu diketahui bahwa ada diantara hukum-hukum Islam yang sudah jelas menjadi kewajiban-kewajiban, atau yang sudah jelas diharamkan (dilarang), dan hal itu sudah menjadi
ketetapan yang tidak diragukan lagi, yang telah diketahui oleh ummat Islam pada umumnya. Yang demikian itu dinamakan oleh para ulama:
ketetapan yang tidak diragukan lagi, yang telah diketahui oleh ummat Islam pada umumnya. Yang demikian itu dinamakan oleh para ulama:
“Hukum-hukum agama yang sudah jelas diketahui.”
Misalnya, kewajiban salat, puasa, zakat dan sebagainya. Hal itu termasuk rukun-rukun Islam. Ada yang diharamkan,misalnya, membunuh, zina, melakukan riba, minum khamar dan
sebagainya.Hal itu termasuk dalam dosa besar. Begitu juga hukum-hukum pernikahan, talak, waris dan qishash, semua itu termasuk perkara yang tidak diragukan lagi hukumnya. Barangsiapa yang mengingkari sesuatu dari hukum-hukum tersebut, menganggap ringan atau mengolok-olok, maka dia menjadi kafir dan murtad. Sebab, hukum-hukum tersebut telah diterangkan dengan jelas oleh Al-Qur’an dan dikuatkan dengan hadis-hadis Nabi saw. yang shahih atau mutawatir, dan menjadi ijma’ oleh ummat Muhammad saw. dari generasi ke generasi. Maka, barangsiapa yang mendustakan hal ini, berarti mendustakan Al-Qur’an dan As-Sunnah. Mendustakan (mengingkari) hal-hal tersebut dianggap kufur, kecuali bagi orang-orang yang baru masuk Islam (muallaf) dan jauh dari sumber informasi. Misalnya berdiam di hutan atau jauh dari kota dan masyarakat kaum Muslimin.
sebagainya.Hal itu termasuk dalam dosa besar. Begitu juga hukum-hukum pernikahan, talak, waris dan qishash, semua itu termasuk perkara yang tidak diragukan lagi hukumnya. Barangsiapa yang mengingkari sesuatu dari hukum-hukum tersebut, menganggap ringan atau mengolok-olok, maka dia menjadi kafir dan murtad. Sebab, hukum-hukum tersebut telah diterangkan dengan jelas oleh Al-Qur’an dan dikuatkan dengan hadis-hadis Nabi saw. yang shahih atau mutawatir, dan menjadi ijma’ oleh ummat Muhammad saw. dari generasi ke generasi. Maka, barangsiapa yang mendustakan hal ini, berarti mendustakan Al-Qur’an dan As-Sunnah. Mendustakan (mengingkari) hal-hal tersebut dianggap kufur, kecuali bagi orang-orang yang baru masuk Islam (muallaf) dan jauh dari sumber informasi. Misalnya berdiam di hutan atau jauh dari kota dan masyarakat kaum Muslimin.
CARA MEMBELA AGAMA
Alquran yang menyuruh muslim untuk bertindak keras itu disesuaikan sama kondisinya.
Oleh dari itu kita perlu mempelajari tafsir Alquran itu terlebih dahulu sebelum mengartikannya, karena kata-kata yang digunakan tidak secara harfiah saja, karena Alquran itu dibuat dengan kata-kata syair terbaik pada masanya hingga sekarang.
Jika mempelajari tentang sejarah islam, alasan mengapa umat islam harus bertindak keras disitu, karena umat islam diperlakukan kasar oleh kaum kafir. Mereka disiksa dan dihina. Nabi Muhammad tidak langsung memerintahkan umatnya membalasnya dengan kekerasan, seperti dikisahkan Nabi Muhammad hijrah ke Madinah untuk menghindari pertumpahan darah. Hingga akhirnya Allah memerintahkan Nabi Muhammad untuk berperang,
Pada dasarnya islam adalah agama yang lembut, dan menggunakan otak untuk menyelesaikan masalah dan berpedoman dengan Alquran dan Hadits.
Di Alquran juga dituliskan untuk bertenggang rasa;
seperti pada surat Al Kafiruun ayat : 'Bagimu Agamamu, dan Bagiku Agamaku'
Jadi Allah memperintahkan kita, untuk harus tetap hidup rukun dengan orang kafir.
Di Alquran juga dituliskan untuk bertenggang rasa;
seperti pada surat Al Kafiruun ayat : 'Bagimu Agamamu, dan Bagiku Agamaku'
Jadi Allah memperintahkan kita, untuk harus tetap hidup rukun dengan orang kafir.
Dalam sejarahnya pula, Nabi Muhammad mengijinkan orang Yahudi untuk tetap tinggal di Madinah, dan tidak melakukan penyiksaan terhadapnya. Kesimpulannya, sebenarnya yang disuruh untuk dilawan itu adalah mereka yang telah berbuat kejam (menzolimi) umat islam. Jika mereka (orang kafir) tidak berbuat zalim, kita tidak berhak untuk memerangi mereka. Keras kepada orang kafir,dalam artian kita tegas dan tidak mau mencampuradukkan agama kita dengan mereka. Tidak mau dizolimi dan menjaga harga diri agama islam. Sementara jika mereka melakukan pencorengan nama baik, kita harusnya berperilaku kritis dan tidak terbawa emosi. Membelanya dengan cara yang baik, karena ada pengadilan, dan ada aturan yang jelas. Jika mereka telah memerangi kita barulah kita memerangi mereka.Gusdur bertindak secara toleran. Dia benar dalam menjaga kerukunan beragama, tidak ada yang salah jika membiarkan orang kafir tetap hidup. Yang diperlukan untuk mereka adalah dakwah kita, untuk memberikan mereka hidayah atas rahmat Allah yaitu Islam.
Kemudian jika dibilang membela agama Allah, jelas kita yang turun sebagai umat islam.Karena kita hamba-Nya, dan posisi Allah yang tinggi daripada makhluknya punya kehendak untuk tidak membela agama-Nya sendiri, karena jelas siapa yang akan menang, karena yang dilawan adalah makhluk-Nya sendiri. Analoginya seperti Presiden saja. Kalau perang yang turun bukan presiden kan ? Yang turun itu tentara. Umat islam itu tentara Allah.